BLOGGER TEMPLATES AND TWITTER BACKGROUNDS

Sunday, November 1, 2009

Mulainya Testing 5 Hari Kerja

Yup, mulai hari ini, selama seminggu kantor menjalankan uji coba 5 Hari Kerja. Ngga kaya kebanyakan kantor, emang sebelumnya kantor saya masuknya 6 hari, kayak anak sekolah. Masuk jam setengah 8, pulang jam setengah 3 kalau hari Senin sampai Kamis. Jumat, sampai jam setengah 12, dan Sabtu jam 1. Kalau ada lembur ya diadakan setelah jam setengah 3.

Uji coba ini bakal diadakan ya cuma seminggu ini, di awal bulan November, dan nanti di awal bulan Desember seminggu lagi, Jikalau setelah evaluasi ternyata efektif, ya mungkin bakal dicanangkan secara resmi di tahun depan. Kalo ngga ya... Entah. Belum ada sosialisasi soal itu sejauh ini, jadi saya sendiri juga ngga tahu kalau misalnya dalam uji coba ini terbukti bahwa pengaplikasian 5 hari kerja ngga efektif terus mau diapakan. Apa mau kembali pake 6 hari kerja seperti biasanya, atau mau buat pembagian waktu kerja yang berbeda lagi, saya cuma bisa menunggu sampai saatnya tiba.

Yang jadi pikiran saya adalah, bagaimana suatu merk pembalut akan membuktikan janji-janjinya yang disebutkan di iklan. Ya, sungguh kebetulan yang sangat disayangkan, hari ini adalah hari kedua periode menstruasi saya bulan ini. Sungguh, sungguh disayangkan. I didn't mean to sound so negative, tapi gimana pun pengalaman membuktikan lebih baik berhati-hati daripada menyesal belakangan. Saya sudah cukup hafal rasanya pulang dengan baju atau celana belepotan. Susah banget untuk menyembunyikan noda seperti itu, dan orang awam pun langsung tahu apa yang sedang kita alami, kalau ngeliat 'bukti-bukti autentik' yang ada.

Jadi, ketika hari bermula, saya sudah berdoa semoga sang produsen pembalut tersebut akan menepati janji-janjinya. Walaupun jarak dari kantor ke rumah hanya 5 menit, tetap saja saya benci repotnya kalau 'accident' semacam itu terjadi.

Itulah salah satu alasan saya selalu menganggap wanita (termasuk saya sendiri) patut untuk dihormati. Kita melalui banyak penderitaan dalam hidup, lho.

Di luar itu saya juga penasaran bagaimana jadinya hari ini. Pulang sore (setengah 4, kalau menurut edaran yang ditempel di papan pengumuman), terus masih ada jadwal monitoring ke kelurahan-kelurahan. Sampai saat ini sih soal monitoring itu belum jelas... Wong tadi saya tanya surat tugasnya mau difotokopi lalu dibagiin ibunya malah mau mendaftar RW-RW yang harus dikunjungi dulu. Koq kayak belum ada persiapan, padahal seharusnya nanti sore udah keliling. Dalam hati sih saya berharap ngga jadi. Cape kan, udah pulangnya jam setengah 4 (walau saya ngga yakin orang-orang kantor bakalan memanfaatkan sekian jam seratus persen untuk kerja), terus harus keliling-keliling lagi. Kalau saya Superwoman (yang ngga sedang haid!) sih saya ngga bakalan mengeluh kayak gini.

Yang bisa saya lakukan sekarang adalah berdoa semoga ngga ada kejadian yang tidak diinginkan terjadi hari ini. Oh iya, sama jaga-jaga juga, nanti siang harus ganti pembalut.

Hahaha... Ini postingan yang (seharusnya) ngga dipublikasiin untuk umum, terutama untuk kaum Adam yang seumur-umur ngga akan mengalami yang namanya menstruasi. But you're all welcome to read about my daily activities. Maaf karena postingan pertama ini terlalu lama nongolnya (karena saya jarang-jarang dapet kesempatan nongkrong di depan komputer kantor tanpa ada mata-mata yang mengawasi di belakang). Kan ngga enak kalo ketahuan lagi mempergunakan komputer kantor tidak untuk tujuan yang seharusnya alias untuk kerja. Apalagi untuk nulis blog. Ketawa lagi deh... Hahahaha...

Anyways, back to work. Baru aja saya diminta untuk mencari materi tentang daur ulang plastik. Bapaknya tadi minta (kalau ada) teknologi yang sederhana untuk melarutkan plastik lalu nantinya plastik yang sudah hancur itu dijadikan bahan baku untuk bikin casing biopori. Idenya bagus, tapi teknologinya yang susah. Yang saya temukan sejauh ini semuanya berskala pabrik, butuh alat-alat mahal dan beresiko. Kalau dilebur, butuh pemanas bersuhu tinggi tapi tertutup, wong asap hasil pembakaran mengandung HCl dan dioksin. Terus kalau dilarutkan, solventnya aja bisa bikin kerusakan Susunan Syaraf Pusat, saluran pencemaan, dan sumsum tulang yang membentuk sel-sel darah merah. Para pekerja yang terpapar secara berlebihan (overexposed workers) menderita anemia dan menurunnya jumlah sel darah putih. I copied that from the article I found :D

Dilema, dilema. Maksud hati baik, mau mengurangi polusi sampah di dunia, tapi apa nyana sumber daya manusia belum terdirik sejauh itu.

Semoga aja saya bisa menemukan yang dicari.

For now, I'm signing off. :)

0 comments: